Home » Archived For May 2017
Wednesday, May 31, 2017
Saturday, May 27, 2017
YANG HILANG DARI NEGERIKU
Foto di bawah ini, adalah pemandangan yg lazim disaksikan tempo dulu. Kala anak-anak murid mau memasuki sekolah tempat menimba ilmu.
Mereka melewati pintu depan yg sudah ditunggu oleh tuan guru. Semua berjalan menunduk sebagai bentuk hormat dan "ngajeni" kepada yang lebih tua.
Berjalan membungkuk bukan hanya sekedar tata cara penghormatan. Tapi juga sebuah simbol mau merendahkan diri kepada manusia lain yang dinilai lebih berat "isinya". Bisa ilmunya, bisa usianya, atau bisa karena maqom (kedudukan) nya.
Namun sekarang itu nampaknya sudah mulai hilang dan mungkin hanya tinggal cerita yg bisa dikenang.
Sekarang, pendekatan guru sebagai teman terkadang malah kebablasan. Tak ada lagi sikap sungkan. Tak ada lagi ewuh pekewuh kepada sang guru. Karena dianggap teman dan sekedar fasilitator pendidikan.
Ditempeleng, lapor komnas HAM. Kalau murid gagal, guru disalahkan.
Saya masih ingat, bagaimana dulu, saya dan kawan-kawan sebaya berlomba menjemput guru kami saat memasuki pagar. Ada yg berebut membawakan sepedanya dan membawakan tasnya. Yang tak kebagian. Tetap bisa berebut untuk urusan salim mencium tangan.
Diperintah guru mengambil kapur adalah sebuah kebanggaan prestisius. Mengunjunginya saat sakit adalah aturan tak tertulis yg membuat para murid bergegas dan berinisiatif patungan lalu membuat rencana untuk mewujudkan.
Gambar ini berbicara lebih dari sekedar tata krama. Tapi juga sebuah kesiapan menerima. Dan ikrar tanpa kata.
"Bahwa kami ingin diajari menjadi manusia".
Semoga kita kembali menjadi bangsa yang tahu tata krama pada yang tua, dan mengerti bahwa menjaga adab dan sopan santun bukanlah bagian dari keprimitifan.
Source : FB I Gede Darma
Mereka melewati pintu depan yg sudah ditunggu oleh tuan guru. Semua berjalan menunduk sebagai bentuk hormat dan "ngajeni" kepada yang lebih tua.
Berjalan membungkuk bukan hanya sekedar tata cara penghormatan. Tapi juga sebuah simbol mau merendahkan diri kepada manusia lain yang dinilai lebih berat "isinya". Bisa ilmunya, bisa usianya, atau bisa karena maqom (kedudukan) nya.
Namun sekarang itu nampaknya sudah mulai hilang dan mungkin hanya tinggal cerita yg bisa dikenang.
Sekarang, pendekatan guru sebagai teman terkadang malah kebablasan. Tak ada lagi sikap sungkan. Tak ada lagi ewuh pekewuh kepada sang guru. Karena dianggap teman dan sekedar fasilitator pendidikan.
Ditempeleng, lapor komnas HAM. Kalau murid gagal, guru disalahkan.
Saya masih ingat, bagaimana dulu, saya dan kawan-kawan sebaya berlomba menjemput guru kami saat memasuki pagar. Ada yg berebut membawakan sepedanya dan membawakan tasnya. Yang tak kebagian. Tetap bisa berebut untuk urusan salim mencium tangan.
Diperintah guru mengambil kapur adalah sebuah kebanggaan prestisius. Mengunjunginya saat sakit adalah aturan tak tertulis yg membuat para murid bergegas dan berinisiatif patungan lalu membuat rencana untuk mewujudkan.
Gambar ini berbicara lebih dari sekedar tata krama. Tapi juga sebuah kesiapan menerima. Dan ikrar tanpa kata.
"Bahwa kami ingin diajari menjadi manusia".
Semoga kita kembali menjadi bangsa yang tahu tata krama pada yang tua, dan mengerti bahwa menjaga adab dan sopan santun bukanlah bagian dari keprimitifan.
Source : FB I Gede Darma
Monday, May 22, 2017
Giat pengarahan Kalapas kepada seluruh WBP Lapas Banyuwangi dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan
(23/05/2017) Giat pengarahan Kalapas kepada seluruh WBP Lapas Banyuwangi dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Kalapas berpesan kepada seluruh WBP agar memanfaatkan bulan Ramadhan ini untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah serta terus menjaga ketertiban dan kondusifitas Lapas Banyuwangi. #SemangatBerkarya
Giat Upacara Bendera Peringatan Hari Kebangkitan Nasional Ke-109. Diikuti oleh karyawan/wati dan WBP Lapas Banyuwangi.
(22/05/2017) Giat Upacara Bendera Peringatan Hari Kebangkitan Nasional Ke-109. Diikuti oleh karyawan/wati dan WBP Lapas Banyuwangi. Acara dilanjutkan dengan Pengarahan Kalapas Banyuwangi kepada seluruh pegawai serta pelepasan Purnatugas atas nama Supardi yang telah memasuki masa pensiun setelah mengabdi selama 34 tahun di jajaran Pemasyarakatan, khususnya di Lapas banyuwangi.
Friday, May 19, 2017
Giat Pengarahan dari Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jawa Timur, Drs.Harun Sulianto, Bc.IP, SH
(19/05/2017) Giat Pengarahan dari Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jawa Timur, Drs.Harun Sulianto, Bc.IP, SH. kepada seluruh pegawai Lapas Klas IIB Banyuwangi. Kadivpas juga melakukan inspeksi kelayakan kamar hunian dan pemenuhan hak WBP. Acara dilanjutkan dengan Penebaran Benih Lele secara simbolis oleh Bapak Kadivpas didampingi Kalapas Banyuwangi, yang mana benih lele tersebut adalah hasil budidaya WBP Lapas Banyuwangi. Bapak Kadivpas juga mengagendakan untuk melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kab. Banyuwangi. Beliau bertemu Wakil Bupati Banyuwangi, Bpk. Yusuf Widyatmoko, S.Sos. yang didampingi oleh Kabag Hukum di Kantor Bupati Banyuwangi.
























































